Pidato yang Masuk Surga Mustofa W Hasyim

Studio Pertunjukan Sastra bekerja sama dengan Nahdlatul Muhammadiyyin Press dan Taman Budaya Yogyakarta menggelar acara Bincang-Bincang Sastra edisi ke 162. Acara bertajuk Pidato yang Masuk Surga: Membaca Puisi-Puisi Mustofa W. Hasyim itu digelar, Sabtu, 23 Maret 2019 pukul 20.00 di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta.

Pembicara dalam Bincang-Bincang Sastra kali ini ialah Kris Budiman dan Mustofa W. Hasyim dan dipandu Asef Saeful Anwar. Puisi-puisi humor dan setengah humor khas Mustofa W. Hasyim akan disajikan dalam pembacaan puisi oleh W.N. Naufal, Muhammad Lutfi Dwi Kurniawan, dan Komunitas OKJ.

Buku Pidato yang Masuk Surga adalah antologi puisi teranyar karya Mustofa W. Hasyim. Puisi-puisi dalam buku ini sebelumnya telah dibacakannya dalam forum Maiyah bersama Emha Ainun Nadjib “Macapat Syafaat” di Kasihan, Bantul, yang digelar rutin pada tanggal 17 setiap bulannya. Buku puisi mutakhir karya ketua Nahdlatul Muhammadiyyin ini diterbitkan NM Press. Sebelumnya, Mustofa telah menerbitkan trilogi buku puisi humor dan setengah humor sebelumnya, yakni Ki Ageng Miskin (2007), Telunjuk Sunan Kalijaga (2013), dan Legenda Asal-Usul Ketawa (2016).

Tubagus Nikmatullah, koordinator acara, mengatakan bahwa situasi yang tegang karena isu politik yang makin mengeras perlu dicairkan dengan sesuatu yang segar. Kali ini Studio Pertunjukan Sastra menyuguhkan puisi. Hal ini mengingatkan ungkapan John F. Kennedy, jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya. Jika politik bengkok, sastra akan meluruskannya. “Meski belakangan masyarakat, dan bukan hanya masyaraat sastra saja, melihat puisi justru digunakan untuk memperkeruh situasi politik praktis di Indonesia seiring berlangsungnya pemilu.”

Mustofa W. Hasyim yang dikenal sebagai penyair, cerpenis, novelis, esais, editor, dan wartawan ini tentu telah banyak merasakan asam garam kehidupan politik di Indonesia. Puisi-puisinya tidak sedikit yang bicara mengenai kelucuan-kelucuan yang terjadi di negeri ini. Kelucuan berupa peristiwa yang ambigu dan paradoks itu diolah oleh penyair kelahiran Kotagede, 17 November 1954 itu menjadi puisi-puisi humor.

“Bagi Pak Mustofa, humor menjadi satu cara ampuh untuk merefleksi kesehatan jiwa manusia. Humor adalah kecerdasan umat manusia dalam menggapai keseimbangan hidup. Humor akan muncul di tengah situasi-situasi yang chaos bukan sekadar sebagai lelucon. Karena humor sejatinya akan mengajak orang untuk berpikir, bukan tertawa,” pungkas Tubagus. (latief s.n.)

SUMBER:
jayakartanews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *