Pemilu untuk Mencari Pelayan: Refleksi Menjelang Pilkada 2024

Pemimpin yang terpilih dalam pemilu akan menentukan kebijakan-kebijakan yang akan mengarahkan pembangunan ekonomi, sosial, dan budaya. Investasi yang kita tanamkan melalui suara kita akan berpengaruh langsung terhadap kesejahteraan masyarakat

Feliks Hatam (Dok. Pribadi)
banner 120x600

OPINI,TERAS NUSA.COM – Pemilihan Umum (Pemilu) dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara bukan sekadar ajang memilih pemimpin, tetapi juga bentuk investasi jangka panjang untuk pembangunan dan kemajuan.

Satu suara yang didasarkan oleh kehendak bebas dalam memilih pemimpin adalah investasi untuk masa depan bangsa dan bagian dari komitmen untuk menciptakan masa depan yang lebih baik

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami dan menyadari betapa vitalnya peran pemilu dalam menentukan arah pembangunan negara.

Pemilu memberikan kesempatan bagi rakyat untuk mengekspresikan kehendaknya. Dalam setiap pemilihan, kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang mencerminkan visi, misi, dan program kerja para calon pemimpin.

Pemimpin yang terpilih dalam pemilu akan menentukan kebijakan-kebijakan yang akan mengarahkan pembangunan ekonomi, sosial, dan budaya.

Investasi yang kita tanamkan melalui suara kita akan berpengaruh langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.

Pada tanggal 14 Februari 2024, masyarakat Indonesia telah memilih Presiden, Wakil Presiden, dan anggota DPR, DPRD, dan DPD. Saat ini, perhatian kita beralih ke persiapan pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak yang akan berlangsung pada tanggal 27 November 2024.

Perhelatan ini bukan sekadar ritual demokrasi, tetapi momen penting untuk memilih pelayan publik. Sebagai pelayan, para pemimpin yang terpilih harus mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi.

Dengan menyadari pentingnya peran pemilu, kita diharapkan tidak hanya menjadi pemilih yang cerdas, tetapi juga aktif berpartisipasi dalam setiap proses demokrasi.

Mari kita gunakan hak suara kita dengan bijak, karena setiap pilihan yang kita ambil akan menentukan arah dan nasib bangsa. Saatnya kita berinvestasi dalam masa depan yang lebih baik untuk kita semua.

Pelayan Rakyat dan Tanggung Jawab Pemimpin

Kata “pelayan” dalam konteks kepemimpinan merujuk pada pemimpin yang mengutamakan kebutuhan masyarakat. Menurut Greenleaf, pemimpin adalah pelayan yang bertanggung jawab untuk mengutamakan dan memenuhi kebutuhan orang lain secara adil melampaui kepentingan pribadi dan golongan. Pemimpin yang melayani harus memiliki karakteristik seperti empati, kerendahan hati, dan integritas.

Pelayan adalah individu yang bertugas untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Dalam konteks kepemimpinan, pelayan publik berorientasi pada kebutuhan masyarakat, menjadi prioritas utama di atas kepentingan pribadi atau kelompok.

Masyarakat, sebagai “tuan”, memberikan mandat dan kuasa kepada pemimpin untuk menjalankan tugasnya. Dengan demikian, setiap pemimpin harus mempertanggungjawabkan tugas dan kewenangannya kepada rakyat secara adil dan transparan.

Rakyat memiliki hak mutlak untuk menentukan sosok pemimpin yang akan membawa bangsa ini menuju keadilan. Hak ini harus dijunjung tinggi dan ditolak segala bentuk praktik yang merusak hakikat demokrasi, termasuk money politics dan melawan segala bentuk intimidasi.

Tantangan dalam Pemilu 2024

Menjelang Pilkada serentak 27 November 2024 kita dihadapkan pada berbagai tantangan serius. Data dari Amnesty International menunjukkan bahwa selama periode kampanye dan pemungutan suara pada pemilu 14 Februasi 2024 banyak pembela hak asasi manusia yang mengalami serangan dan intimidasi.

Selain itu, laporan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mengungkapkan adanya 18 peristiwa kekerasan selama pemilu, termasuk penganiayaan dan bentrokan, yang mengakibatkan luka-luka dan bahkan korban jiwa.

Kejadian-kejadian ini mencerminkan lingkungan yang tidak kondusif bagi kebebasan berpendapat dan partisipasi publik dalam proses demokrasi.

Satu aspek lain yang patut dicermati dan semakin mengkhawatirkan adalah meningkatnya pengaruh politik uang. Lembaga survei Indikator Politik Indonesia menemukan bahwa 35,1 persen responden pada pemilu 14 Februari 2024 mengaku memilih karena uang, meningkat dari 28 persen pada pemilu 2019. Hal ini menunjukkan penurunan kesadaran masyarakat terhadap praktik politik uang.

Pada pemilu 2019, 67 persen masyarakat menganggap politik uang tidak wajar, namun angka ini menurun menjadi 49,6 persen pada pemilu 2024. Artinya, masyarakat semakin toleran terhadap praktik yang seharusnya dilarang ini.

Ini menggambarkan bahwa pengaruh politik uang semakin meresap dalam budaya pemilu, dan tantangan ini harus dihadapi dengan serius oleh semua pihak yang peduli terhadap masa depan demokrasi di Indonesia.

Mewujudkan Demokrasi yang Sehat

Menjelang Pilkada serentak 27 November 2024, kita harus berjuang untuk kebebasan berbicara, memperkuat penegakan hukum terhadap praktik politik uang, dan mendorong partisipasi masyarakat yang lebih luas.

Lingkungan yang mendukung demokrasi yang sehat sangat penting, di mana setiap suara dihargai dan setiap pemilih diberdayakan untuk memilih berdasarkan keyakinan, bukan karena tekanan atau iming-iming materi.

Kita tidak hanya memilih pemimpin, tetapi juga menentukan masa depan bangsa. Pemimpin yang melanggengkan praktik politik uang adalah mereka yang miskin gagasan dan prestasi.

Sebaliknya, pemimpin yang melayani akan mengutamakan kepentingan rakyat, mendengarkan aspirasi mereka, dan berkomitmen untuk mewujudkan keadilan bagi semua.

Kebebasan memilih pemimpin berdasarkan suara hati adalah harkat dan martabat rakyat sebagai makhluk politik dan demokrasi.

Menolak money politics sebagai langkah fundamental untuk menjaga hak dan martabat sebagai “tuan” dalam penjaringan pemimpin dan menghagai kebebasan berpendapat adalah langkah-langkah konkret mewujudkan demokrasi yang sehat.

Kita tidak hanya memilih pemimpin, tetapi juga menentukan masa depan bangsa. Pemimpin yang melanggengkan praktik politik uang adalah mereka yang miskin gagasan dan prestasi.

Sebaliknya, pemimpin yang melayani akan mengutamakan kepentingan rakyat, mendengarkan aspirasi mereka, dan berkomitmen untuk mewujudkan keadilan bagi semua.

Mencari Pemimpin yang Melayani

Dalam pencarian kita akan pemimpin yang layak, penting bagi kita untuk memahami bahwa pemimpin yang sejati adalah mereka yang siap untuk melayani, bukan untuk dilayani.

Kepemimpinan yang berorientasi pada pelayanan akan mendorong pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan, serta menciptakan masyarakat yang lebih harmonis.

Mari kita bersama-sama berkomitmen untuk memilih pemimpin yang mampu mengantarkan kita menuju Indonesia yang lebih baik

Dengan demikian, pemilu bukanlah sekadar ajang penjaringan pemimpin, tetapi juga momen penting untuk mengembalikan harkat dan martabat rakyat sebagai “tuan” dalam proses demokrasi.

Kita semua memiliki peran dalam menentukan arah masa depan bangsa. Mari kita gunakan hak suara kita dengan bijak dan menolak segala bentuk praktik yang merusak integritas demokrasi kita.

Kepemimpinan pelayan adalah pemimpin yang mengutamakan kemanusiaan. Gaya kepemimpinan pelayan (servant leadership) menjadi penting dalam konteks ini. Pemimpin yang melayani mengutamakan kepentingan masyarakat dan berkomitmen untuk mendengarkan serta memenuhi kebutuhan setiap warga negara.

Kepemimpinan pelayan dibangun di atas dasar kasih, etika, dan komitmen untuk membangun keharmonisan. Seorang pemimpin pelayan yang efektif mampu berkomunikasi dengan baik, mendengarkan secara aktif, dan memahami aspirasi masyarakat.

Rakyat berperan sebagai mitra yang perlu didengarkan, diajak berdiskusi, dan dikembangkan potensinya. Kepemimpinan yang demikian mampu menciptakan stabilitas dan kemajuan dalam masyarakat yang beragam.

Menentukan masa depan Indonesia memerlukan keterlibatan aktif dari seluruh elemen masyarakat. Setiap individu memiliki kesempatan untuk memilih pemimpin yang akan memandu kita menuju Indonesia yang lebih baik.

Pemimpin yang terpilih haruslah pelayan yang siap melayani dan membawa program-program strategis untuk kesejahteraan rakyat.

Dengan demikian, pemilu bukan sekadar memilih, tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama untuk memastikan bahwa pemimpin yang terpilih benar-benar mampu membawa perubahan positif dan mewujudkan harapan rakyat.

Dalam rangka memaksimalkan fungsi dari pemilu sebagai investasi untuk pembangunan, partisipasi aktif dari masyarakat sangatlah penting. Tidak hanya saat pemilihan, tetapi juga dalam mengawasi jalannya pemerintahan setelah pemilu.

Masyarakat harus terus berperan serta dalam memberikan masukan, kritik, dan dukungan kepada pemimpin yang terpilih.

Dengan cara ini, kita dapat memastikan bahwa pemimpin yang kita pilih benar-benar menjalankan amanah dengan baik dan membawa kemajuan bagi bangsa.

Mari kita bersama-sama berkomitmen untuk menciptakan demokrasi yang sehat, adil, dan berkelanjutan. Pemimpin yang baik dengan berjiwa pelayan lahir dari demokrasi yang sehat.

Saatnya kita berinvestasi untuk masa depan yang lebih baik bagi kita semua, melalui suara yang kita berikan saat pilkada serentak pada bulan November 2024

Artikel ini telah tayang di Pos-Kupang.com dengan judul Opini – Pemilu untuk Mencari Pelayan: Refleksi Menjelang Pilkada 2024, https://kupang.tribunnews.com/2024/09/14

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *