Opini  

Prapaskah 2025: Ritual atau Transformasi Sosial?

Prapaskah 2025 adalah saat yang tepat untuk menyalibkan egoisme, individualisme, dan ketidakpedulian terhadap sesama

Feliks Hatam (Dok. Pribadi)
banner 120x600

Masa Prapaskah tahun ini mengajak umat untuk merenungkan kembali cara hidup sebagai makhuluk sosial, religius dan ekologis. Puasa tidak hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga pengorbanan diri dalam bentuk gaya hidup sederhana, kepedulian terhadap lingkungan, dan membangun solidaritas dengan mereka yang tertindas. Dalam era digital yang serba cepat, puasa juga bisa diwujudkan dengan mengurangi konsumsi informasi yang tidak membangun, menghindari ujaran kebencian, serta lebih banyak meluangkan waktu untuk refleksi dan doa.

Konteks Global dan Keterlibatan Umat Katolik

Dalam konteks global tahun 2025, Gereja Katolik terus menyerukan pentingnya perdamaian dan keadilan sosial. Konflik yang masih terjadi di berbagai belahan dunia menuntut keterlibatan nyata umat beriman. Paus Fransiskus dalam berbagai pesannya menekankan pentingnya ekologi integral, yaitu menjaga keseimbangan antara manusia dan alam, sebagaimana tertuang dalam ensiklik Laudato Si’ dan Fratelli Tutti. Dalam masa Prapaskah ini, umat Katolik diajak untuk lebih peduli terhadap isu lingkungan, mengurangi konsumsi berlebihan, dan lebih banyak berbagi dengan sesama yang membutuhkan.

Di Indonesia, tantangan sosial dan ekonomi juga menjadi perhatian utama. Krisis ketahanan pangan, ketimpangan ekonomi, dan degradasi lingkungan adalah realitas yang harus dihadapi dengan sikap peduli dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, puasa dan pantang tahun ini juga harus dihayati dalam bentuk aksi nyata seperti mengurangi pemborosan, mendukung produk lokal, serta terlibat dalam gerakan sosial yang memperjuangkan kesejahteraan bersama.

Aksi Solidaritas dan Pertobatan Holistik

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *