Kompendium Ajaran Sosial Gereja artikel 18 menegaskan bahwa humanisme sejati haruslah inklusif dan solider, menciptakan tatanan sosial yang berlandaskan martabat manusia. Solidaritas bukan sekadar belas kasihan, tetapi tanggung jawab moral yang mengalir dari kedalaman iman. Prapaskah 2025 adalah saat yang tepat untuk menyalibkan egoisme, individualisme, dan ketidakpedulian terhadap sesama.
Aksi solidaritas dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti membantu mereka yang kurang beruntung, mendukung pendidikan bagi anak-anak miskin, serta berpartisipasi dalam gerakan sosial yang mengupayakan kesejahteraan bersama. Di era digital, aksi solidaritas juga bisa dilakukan dengan menyebarkan informasi positif, mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan, serta mendukung gerakan yang memperjuangkan hak asasi manusia.
Penutup: Puasa sebagai Dialog dengan Konteks
Dalam bukunya, Bevans (2010:230) menjelaskan bahwa konteks bukan hanya ruang geografis, tetapi juga pengalaman sosial, budaya, dan sejarah umat manusia. Oleh karena itu, puasa harus menjadi sarana dialog dengan realitas yang terjadi saat ini.
Tahun 2025 membawa tantangan baru, tetapi juga peluang untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan melalui pertobatan yang lebih kontekstual. Dengan membuka diri terhadap realitas, berdialog dengan konteks, dan melaksanakan aksi nyata, umat Katolik dapat menjalani masa Prapaskah dengan lebih bermakna. Sebab, seperti yang diajarkan Kristus, pertobatan sejati bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga demi keselamatan dunia dan kesejahteraan bersama.
Mantap abangku