Opini  

Ketika Gelora Harap Terkapar di Dunia Nyata

Ketika Gelora Harap Terkapar di Dunia Nyata
banner 120x600

Sesungguhnya, saya tidak tergoda untuk menulis sandiwara itu dalam esai pendek ini. Tetapi desakan prihatin berayun-ayun sehingga lahirlah tulisan kecil. Tapi buah pikiran pendek ini bukan menyudutkan para pihak. Semata-mata goresan kecil untuk kita renungkan. Siapa tahu ada tetes embun yang dapat menjinakkan akal kita agar bisa melihat persitiwa ini secara jernih.

Pada angle mana kita terpaksa menghujat dan pada bilik mana kita mendoakannya. Gadis Pupung dan Pace Papua adalah potret buram yang menampilkan sisi lain kehidupan nisbi manausia. Pace hendak meniti cinta karena jalinan ucap yang telah saling menukar. Jahitan kata yang telah tarawat pada layar akal. Keduanya sepakat menganyam rasa meski hanya di dunia maya.

Kedatangan Pace dari Papua menuju sudut Pupung hendak menjunjung ujud yang sudah saling dijunjungi. Namun apesnya, ketika jengkal-jengkal telapak kaki hendak mendarat di teras halaman yang pernah dinyatakan, justru berujung luka. Menuai lara. Si dara Pupung tak jua nampakan wajah dan sarana yang mendekatkan jarak tak dapat diharapkan. Sudah melayang entah ke mana. Kebersamaan kian menipis, berjarak dan lenyap.

Itulah memoar dunia maya. Indah rupa tak selamanya pas apa adanya. Bisa saja berbeda karena dunia maya punya takdirnya. Dunia maya menawarkan pilihan, tetapi ketika dirayakan secara salah, maka tak kuasa menahan amarahnya. Bisa berujung laknat tak tahan kembaranya.

Si Pace pemuda lugu dengan raut wajah kesal harus pulang ke tanah asalnya seraya menenteng peri dan gurat luka di bilik hatinya. Sakitnya serba tertalu karena tidak menggapai janji-janji yang sudah dirakit jauh-jauh hari. Cinta jadi menyiksa karena sebelumnya telah “diikat” harus hilang dari ingatan. Apakah itu membenarkan pepatah klasik, “setiap pria punya keinginan dan wanita punya cara?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *