Feature: Mengendus Jejak, Mengurai Kisah, Karya Kanis Lina Bana

SMA Negeri 8 Poco Ranaka
Penulis: Kanis Lina Bana (Foto: Dokumen Probadi)
banner 120x600
Momen peluncuran buku karya Siswa/i SMA Negeri 8 Poco Ranaka (Foto: Kanis Lina Bana)

Namun, berkat perjuangan yang tulus dan sentuhan sang kepala sekolah sendiri, semuanya bisa tercukupi. Lahan yang serba “irit” sanggup tercukupi untuk ukuran bangunan yang direncanakan.

Bahkan beberapa fasilitas harus dibangun meski tidak tercakup dalam desain awal. Dana yang tersedia dimanfaatkan sebaik dan seefektif mungkin sehingga wajah SMA Negeri 8 Poco Ranaka benar-benar megah.

Mungkin atas dasar itulah ketika berbicara, sang kepala sekolah harus meneteskan air mata. Air mata pengorbanan , air mata kebahagian untuk memberi arti atas perjuangan yang tak sia-sia, sekaligus ekspresi kepuasan batinnya. Luapan gembira yang berwujud syukur.

Bahwa kepercayaan yang diberikan kepadanya dinyatakan secara total tanpa memperhitungkan segala pengorbanannya. Ia memulai dengan segala tantangan, akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan.

Apa yang dirindukan kini tercapai. Wajah SMA Negeri 8 Poco Ranaka tak lagi compang-camping seperti sebelumnya. Semuanya menjadi indah pada waktunya.

Jika menelusuri jejak awal berdirinya SMA Negeri 8 Poco Ranaka, tergambar jelas tantangan yang dihadapi. Ada peluh yang menguras tenaga. Ada pilu yang mengiris rasa. Ada keluhan yang menghambat. Namun, berkat perjuangan tanpa gentar, lembaga yang diharapkan itu akhirnya diresmikan pada tahun 2014.

Awal berdirinya sekolah ini bagaikan duri dalam daging. Bukan karena keterbatasan siswa-siswinya, melainkan karena fasilitasnya belum ada.

Sementara itu, lahan yang disiapkan untuk pembangunan fasilitas sekolah menghadapi risiko yang cukup besar. Kontur tanahnya rawan. Berada di lereng dengan tingkat kemiringan yang cukup mengancam.

Lahan yang penuh risiko itu harus “disulap” agar aman, sehingga bangunan sekolah dapat berdiri kokoh dan anggun. Dan seorang kepala sekolah, Hendrikus Jemi, S.Pd., sanggup mengubah semuanya.

Dengan semangat tanpa henti, ia memulai dengan caranya sendiri. Yang sulit bagi kebanyakan orang, di benaknya semua bisa diatasi. Asalkan demi kebaikan siswa-siswinya. Demi kemajuan pendidikan di Manggarai Timur.

Memang tidak mudah memulainya. Nada pasrah sempat muncul sesaat. Tetapi semangat pengabdian dan totalitas panggilan hidupnya sebagai seorang guru-pendidik membuatnya mampu mengikis semua hambatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *