Ini mungkin sebabnya. Tapi, aku terlalu laebai kalau aku mengaku diri dirindu oleh gadis berdarah Lio itu. Terlalu optimis. Mungkin juga benar. Itulah kemungkinan.
Senyumannya manja. Dekapannya melekat dalam dadaku. Lima tahun silam kisah itu telah berlalu, tetapi kini masih dirasakan. Seolah malam itu seperti hari Minggu saat kami berbagi cerita pada sebuah taman di sekolah tempat kami bereksis.
Malam kian larut. Kelam mendekap pekat. Arman tetangga tempat tidurku, merasakan suasana yang kurang nyaman. Mungkin, karena tempat tidurku yang reot itu selalu berbunyi jika membalikan badan.
Ia pun terbangun dari kantuknya. Matanya tersayup ngantuk. “kakak, kenapa belum tidur?”, sahutnya menaruh perhatian belaskasihan kepadaku.
“Ttidak tahu ade, batin dan pikiranku tak tenang. Mataku tak mau terpejam”. Timpalku. Kami pun bercerita sedikit. Tapi aku masi gelisah tak karuan. Wajah hitam manis itu berlihai terus dalam pikiranku.
”jangan-jangan pengaruh minum kopi di puncak tadi sore kae,” lanjutnya. Ah tidak mungkin galau seberat ini akibat racun kopi. Tidak mungkin. Terus-terus aku menegasinya.
Tuhan mengapa aku selalu membayangkan wajah perempuan berdarah Lio itu. Apakah aku harus berdosa, karena memikirkan wajah seorang mantan kekasih yang telah berpaling dan menjadi isteri orang?
Bukankan ia telah menikah. Telah memiliki buah hati, hasil perkawinan cinta mereka? Sungguh aku takut Tuhan.
Mengapa kisah lima tahun silam itu kembali mengiang-ngiang di pikiranku? Bukankah kisah itu berlalu seiring berlalunya waktu? Ataukan masa lalu kembali hadir, menjadi ikhtiar yang mendayagunakan masa depanku? Mungkin kisah silam itu menjadi guru yang membuat aku untuk memahami waktu. Ya sudahlah.
“Dosa? Dosa pikiran? Tidak mungkin. Dia kekasihku dulu.” Aku terus bertanya dalam diri. “Tidak…tidak…tidak.” Teriakku. Semua teman sekamarku pun terbangun dari tidur. Kaget. Mereka melihatku duduk melotot pada tempat tidurku.
“Engkau mengapa Andik”. Seorang dari mereka bertanya.
“tidak apa-apa teman”. Sahutku.
“apakah engkau mengigau?
“tidak”. Ia pun terdiam, dan aku pun. Yang lain temanku tak menghiraukan kembali keadaanku. Mereka kembali terlelap.
Malam semakin kelam. Suasana jagat semakin pekat. Kumenekan kontak lampu kamar. Lampu menyala. Jarum jam di dinding itu telah menunjukan pukul satu tiga puluh. Aku kaget.
Waktu terlalu cepat berputar. Aku belum merasakan lelapnya tidurku. Jarum jam tuk bangun tak jauh lagi. Jam berapa waktuku tidur malam ini. Sahutku dalam kediaman itu.
Apakah pikiranku menghukumku? Atau, perempuan itu juga merindukanku. Tanpa pesimis. Aku begitu optimis saat itu. Dia juga merindukanku. Aku kembali membaringkan diriku pada ranjang empukku. Di bawah bantal tidurku terlihat cahaya lampu berkedip-kedip.
Ternyata hpku menyala bisu. Nyala itu bertanda ada pesan atau orang menelpon. Tapi, siapa ya? Larut malam begini. Ada perlu apa lagi. Aku selalu menanyakan gejala alam itu dalam batinku. Jawabannya selalu kontra dan tak mungkin. Tapi kali ini, benar-benar kejutan. Nomor baru. Siapa lagi.