Rektor Unika Ruteng: KKN Tematik Dorong Kolaborasi dan Pembangunan Berbasis Masyarakat

Rektor Unika Santu Paulus Ruteng, Dr. Agustinus Manfred Habur, menegaskan KKN Tematik 2025 bukan sekadar tugas akademik, tetapi mesin kolaborasi kampus, pemerintah daerah, dan warga desa untuk mendorong pembangunan berbasis masyarakat dan mewujudkan keadilan sosial dari Nusa Tenggara Timur.

Rektor Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng, Dr. Agustinus Manfred Habur, Lic., Theol., saat memberikan pembekalan kepada mahasiswa KKN Tematik 2025 (Sumber:Tim IT, Publikasi & Dokumentasi KKN Tematik 2025 Unika Santu Paulus Ruteng)

TERASNUSA.comRektor Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng, Dr. Agustinus Manfred Habur, Lic., Theol., menegaskan bahwa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik 2025 bukan sekadar program akademik, tetapi bentuk keterlibatan nyata mahasiswa dalam denyut nadi kehidupan masyarakat.

Dalam pembekalan bertajuk “Sinergi Universitas dan Pemerintah Daerah: KKN sebagai Wadah Kolaboratif Pembangunan Berbasis Masyarakat”, ia menekankan empat pilar penting: Universitas sebagai mitra transformasi sosial; KKN sebagai wadah kolaboratif; pembangunan berbasis masyarakat menuju keadilan sosial; dan peran mahasiswa sebagai pembelajar, pelayan, serta penggerak.

Ket: Ssuasana saat mahasiswa KKN Tematik 2025 mengikuti rangkaian materi pembekalan (Sumber:Tim IT, Publikasi & Dokumentasi KKN Tematik 2025 Unika Santu Paulus Ruteng)

Universitas sebagai Mitra Transformasi Sosial

Unika Santu Paulus hadir bukan semata sebagai institusi akademik, tetapi komunitas ilmiah dan spiritual yang diutus untuk melayani kehidupan. Dalam konteks ini, menurutnya, universitas dipanggil menjadi mitra transformasi sosial: membentuk kepekaan sosial, solidaritas, dan daya ubah mahasiswa melalui perjumpaan konkret dengan realitas masyarakat, khususnya wilayah yang termarjinalkan.

“KKN Tematik adalah ruang belajar kontekstual, di mana ilmu, nilai, dan aksi berbaur dalam dialog dengan kehidupan nyata. Mahasiswa membangun relasi, bukan dominasi; memfasilitasi perubahan, bukan memaksakan solusi,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *