Ketika Gelora Harap Terkapar di Dunia Nyata
Oleh Kanis Lina Bana*
Kisah nestapa tentang cinta terkapar di dunia nyata adalah “penggalan stasi” yang menyakitkan. Jahitan pengalaman yang menyesakkan dada. Gumpalan kisah yang menyiksakan jiwa. Betapa tidak, gelora ingin dan niat ikhlas yang sedang berkelana dalam harap harus kandas. Terkulai tak bertepi. Menjerit kian ngeri. Terbungkus dalam pasrah. Semuanya serba terlalu.
Terlalu karena gelora cinta di satu sisi mendorong nekat, memicu hasrat melanglang buana dari Papua sana berbalut ingin tak tergapai di jemari. Terlalu di sisi lainnya, karena tega nian si gadis yang konon katanya dari Pupung itu mengatup diri dalam skenario cantik nan menyiksa. Dan pada endingnya si jejaka nan malang itu terhentak sadar.
Pace telah menjadi korban atas perbuatan sang dara. Pulang dengan tangan hampa seraya meremas dada. Ingin yang pada pucak harus pudar. Semuanya jadi lembar-lembar luka bernana. Sang gadis? Adakah benang-benang nyesal di sudut batinnya.
Kita tak kuasa tahu, karena alasan mendasar sudah tergaris pada gumpalan hatinya. . Entahlah…
Meski serba menerka-nerka, “ Apakah karena miskomunikasi mengakibatkan layar tancap pernah anyam bersama harus terpaksa terkapar? Apakah pantas sejumlah pembaca di dunia maya menghakimi si gadis desa yang telah mempermainkan rasa?
Kita atau pembaca, tentunya, “bermain” dalam cara pandang beragam. Sebab kita pada sudut pandang nan jernih kita bukan ‘hakim’ tunggal untuk mengumbar umpat. Bukan kerabat dekat yang sepantasnya menyatakan bela rasa. Kita sebatas prihatin dan berbela duka. Sebab getar batin kita turut terseret pada pentas sandiwara yang dimainkan sang dara yang seturut nitizen berasal dari Pupung sana itu.