Antologi Puisi Cinta yang Abadi: Sebuah Janji dalam Kata dan Waktu, oleh Feliks Hatam

Antologi Puisi Cinta yang Abadi: Sebuah Janji dalam Kata dan Waktu,

Ilustrasi menulis puisi ( Foto:koransulindo.com/Freepik)
banner 120x600

Senyummu, Cahaya dalam Hatiku

Bagiku, kaulah pemilik senyum terindah,
Senyum yang menyemai harapan,
Menghidupkan pelita di gelap malam.

Bagiku, kaulah permata,
Yang tak hanya menghiasi hatiku,
Namun juga membangun bahagia.

Untukmu pemilik hati,
Hati ini bukanlah ladang,
Yang ditanami sementara.

Bersama rasamu,
Hatiku adalah rumah.
Yang hidup, kokoh, dan hangat.
Kita membangunnya,
Menghiasnya dengan cinta,
Menjadikannya perlindungan tanpa musim.

Untukmu, Pemilik Hati

Genggamlah rasa dalam sadar,
Bersama, mari melangkah meraih mentari,
Sebelum pagi berlalu.

Bersama, kita membangun,
Mengukir kisah yang luar biasa.

Melawan Gombal

Aku mencintaimu, bukan sekadar kata,
Tapi bahasa hati yang terukir tulus.
Aku merindukanmu, bukan sekadar rayuan,
Tapi bahasa rasa yang tertulis dalam jiwa.
Aku tak bisa hidup tanpamu, bukan sekadar ungkapan,
Tapi kebenaran yang kurasakan setiap hela napas.

Aku tak bisa jauh darimu, bukan sekadar janji,
Tapi kejujuran hati.
Tentang hadirmu yang menjadikanku berarti.
Senyummu adalah aliran kesejukan,
Yang menghidupkan nadiku, bukan sekadar pujian.

Jika semua ini kau anggap gombal,
Maka biarkan sajak ini yang menjawabnya.
Karena cintaku bukan rayuan,
Melainkan kisah yang kutulis dengan ketulusan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *