Senyummu, Cahaya dalam Hatiku
Bagiku, kaulah pemilik senyum terindah,
Senyum yang menyemai harapan,
Menghidupkan pelita di gelap malam.
Bagiku, kaulah permata,
Yang tak hanya menghiasi hatiku,
Namun juga membangun bahagia.
Untukmu pemilik hati,
Hati ini bukanlah ladang,
Yang ditanami sementara.
Bersama rasamu,
Hatiku adalah rumah.
Yang hidup, kokoh, dan hangat.
Kita membangunnya,
Menghiasnya dengan cinta,
Menjadikannya perlindungan tanpa musim.
Untukmu, Pemilik Hati
Genggamlah rasa dalam sadar,
Bersama, mari melangkah meraih mentari,
Sebelum pagi berlalu.
Bersama, kita membangun,
Mengukir kisah yang luar biasa.
Melawan Gombal
Aku mencintaimu, bukan sekadar kata,
Tapi bahasa hati yang terukir tulus.
Aku merindukanmu, bukan sekadar rayuan,
Tapi bahasa rasa yang tertulis dalam jiwa.
Aku tak bisa hidup tanpamu, bukan sekadar ungkapan,
Tapi kebenaran yang kurasakan setiap hela napas.
Aku tak bisa jauh darimu, bukan sekadar janji,
Tapi kejujuran hati.
Tentang hadirmu yang menjadikanku berarti.
Senyummu adalah aliran kesejukan,
Yang menghidupkan nadiku, bukan sekadar pujian.
Jika semua ini kau anggap gombal,
Maka biarkan sajak ini yang menjawabnya.
Karena cintaku bukan rayuan,
Melainkan kisah yang kutulis dengan ketulusan.