Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh gaya hidup digital yang semakin mendominasi, di mana paparan terhadap konten berdurasi pendek seperti yang disajikan di platform TikTok dan Facebook/Instagram Reels membuat otak terbiasa menerima informasi secara cepat dan singkat.
Akibatnya, banyak orang mengalami kesulitan untuk mempertahankan fokus pada aktivitas yang memerlukan konsentrasi lebih lama, seperti membaca buku, membaca artikel panjang atau menonton video dengan durasi lebih dari 10 menit.
Selain itu, kebiasaan ini dapat menurunkan kesabaran dalam menghadapi tugas-tugas yang membutuhkan pemikiran mendalam. Lebih parah, orang-orang mudah stress, mudah tersinggung, dan mudah marah.
Untuk mengatasi masalah ini, disarankan untuk melatih kemampuan fokus dengan cara membaca buku, membaca postingan yang berbasis teks panjang, atau menonton video edukatif berdurasi panjang secara rutin setiap hari, sehingga otak dapat kembali terbiasa dalam memproses informasi yang lebih kompleks dan mendalam.
𝟯. 𝗠𝗲𝗻𝗶𝗻𝗴𝗸𝗮𝘁𝗸𝗮𝗻 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝗠𝗲𝗻𝘂𝗿𝘂𝗻𝗸𝗮𝗻 𝗞𝗲𝗰𝗲𝗿𝗱𝗮𝘀𝗮𝗻?
Penggunaan media sosial memiliki potensi ganda terhadap perkembangan kemampuan atau kecerdasan dan kemampuan berpikir kritis seseorang.
Di satu sisi, konsumsi konten edukatif dan partisipasi dalam diskusi yang konstruktif dapat memperluas wawasan dan meningkatkan keterampilan analitis.
Namun, paparan berlebihan terhadap konten yang kurang bermutu, seperti informasi dangkal, hoaks, atau debat yang tidak sehat, dapat menurunkan kemampuan berpikir kritis, dapat membuat otak kita busuk.
Kondisi ini dapat membuat individu lebih mudah percaya pada informasi tanpa verifikasi dan mengadopsi pola pikir yang dangkal akibat terbiasa dengan informasi instan tanpa refleksi mendalam.
Untuk mengatasi hal tersebut, penting bagi pengguna media sosial, para netizen, untuk secara selektif mengikuti akun-akun yang menyajikan informasi berkualitas dan terpercaya.
Selain itu, selalu lakukan verifikasi terhadap informasi yang diterima sebelum menyebarkannya, guna memastikan kebenaran dan mencegah penyebaran hoaks.
Dengan demikian, media sosial dapat dimanfaatkan sebagai alat yang efektif untuk meningkatkan kecerdasan dan kemampuan berpikir kritis, bukan sebaliknya.
𝟰. 𝗙𝗢𝗠𝗢
𝗙𝗲𝗻𝗼𝗺𝗲𝗻𝗮 𝗙𝗲𝗮𝗿 𝗼𝗳 𝗠𝗶𝘀𝘀𝗶𝗻𝗴 𝗢𝘂𝘁 (𝗙𝗢𝗠𝗢) merujuk pada perasaan cemas atau takut ketinggalan informasi, pengalaman, atau interaksi yang dianggap penting.
Paparan terus-menerus terhadap kehidupan “sempurna” yang ditampilkan orang lain di media sosial dapat memicu perasaan kurang puas atau tidak aman terhadap diri sendiri.
𝗙𝗢𝗠𝗢 dapat membuat seseorang untuk selalu membandingkan kehidupannya dengan orang lain yang dapat memicu perasaan tidak puas dan cemas.
Adanya ketakutan akan ketertinggalan informasi atau update status, membuat sesorang menjadi sangat bergantung pada media sosial.
Hal ini akan memicu orang untuk terus scrolling media sosial secara berlebihan untuk terus update informasi dan untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di sekitar.
Belum lagi kalau kita sangat fans dengan tokoh tertentu dan kita mengikuti akun media sosialnya maka ketakutan akan ketertinggalan informasi tentang tokoh tersebut memicu kita untuk terus scrolling media sosial tiada henti.
𝟱. 𝗔𝗱𝗼𝗽𝘀𝗶 𝗝𝗢𝗠𝗢