“Andik, mengapa Tuhan tidak menjodohkan kita. Kalau memang kamu benar-benar mencintaiku.” Isi pesan itu.
“maaf, kamu siapa. Mungkin salah sambung.” Jawabku.
Berat pikiranku pada wajah perempuan Lio itu. Tandanya, pesan itu masih terselip kekhasannya. Karena itu, kecurigaanku tidaklah salah. “Eis” jawabnya. Singkat. Membuatku tercengang.
Ternyata benar. Nama lama, kembali teringat. Lalu, kumembalas pesannya yang belum sempat di balas. “Eis, Tuhan itu Maha bijaksana. Maha adil. Rencana Tuhan sungguh lain dari rencana manusia.
Apalagi rencana yang telah kita rajuti. Tuhan tertawa kala kita menabur janji. Buktinya kita tidak memanennya.”
“Kalau memang Tuhan adil, mengapa tidak menyatukan cinta kita? Mengapa Ia memisahkan janji kita?
“itulah rencananya. Sungguh lain dari kebijaksanaan yang kita miliki. Terus kumeneguhkannya.
“itu artinya kamu tidak mencintaiku waktu kamu menjadi miliku”. Ia sungguh kecewa. Jawabanku yang sungguh di luar nalarnya.
“Bukan tidak mencintai, tetapi hanya tidak menyatu”. Jawabku.
Cinta dalam dirinya telah tertanam dalam setia pribadi. Kewajiban setiap pribadi adalah membagikannya kepada yang lain. Meski bukan miliknya. Itulah cinta universal. Ia umum. Dalam dirinya mempunyai arti.
Ia sungguh menuntutku untuk tetap mencintainya. Bagiku tidaklah sulit, jika hanya untuk mencintai. Tapi bukan untuk memiliki.
Tak selamanya cinta memiliki. Cinta membutuhkan pribadi lain untuk menyatu.
Diakhir pesan kuberkata, “Eis, cinta tak selamanya harus diikatkan pada satu nama. Meski ia anggun. Kisah tak selamanya mengalir seperti air. Karena itu, kisah cinta yang mengalir dan menyatukan semua kisah hanya pada Tuhan sendiri”.
Aku telah lelah. Mataku tersayup ngantuk. Pikiranku tenang. Tak berkaruan lagi. Kopi bukan lagi akibatnya pergulatan pikiran dan batin malam itu. Wajah Lio itu sebabnya. Lima menit kumenunggu balasannya. Namun, tak ada balasan.
Hatiku sudah tenang. Ia mungkin sudah nyenyak. Aku kembali mematikan lampu kamar dan berbaring di atas ranjangku. Kumematikan hpku. Kuperlahan membuka selimutku, menutup tubuh dengan kedinginan malam. Sejenak curhatku dengan Tuhan dan berkata; Tuhan dia bukan jodohku.*
@Penulis: Hardy Sungkang
*)Keterangan: Cerpen ini telah dipublikasikan di Pos Kupang pada hari, tanggal: Minggu, 29 Maret 2015