Antologi Puisi Cinta yang Abadi: Sebuah Janji dalam Kata dan Waktu, oleh Feliks Hatam

Antologi Puisi Cinta yang Abadi: Sebuah Janji dalam Kata dan Waktu,

Ilustrasi menulis puisi ( Foto:koransulindo.com/Freepik)
banner 120x600

Mawar Cinta dalam Duri

Mengapa kau berduri?
Haruskah cinta pun menyisakan perih?
Namun walau berduri, tetap kausuguhkan keindahan.
Meski berkerikil, langkahku takkan surut mengejarmu.
Sebab dalam durimu, kutemui kelembutan,
Dalam kerikilmu, kutemui sinar matamu yang menawan.

Mawarku

Pesonamu mengundang mata menatap,
Memanggil hati untuk mendekap.
Namun, tak akan kubiarkan mereka merebutmu.
Hati ini berjanji,
Akan menjadi yang pertama mengucap,
“Aku mencintaimu, selamanya.”
Kaulah bunga yang kupilih, satu dalam taman hatiku.

Tatapan yang Menautkan Waktu

Tatapanku menemukanmu lebih cepat dari waktu.
Detak jantung melagukan nada yang baru.
Hatiku menari dalam kebahagiaan,
Karena sejak awal, aku telah memilihmu.

Nama yang Kutitipkan dalam Doa

Nama itu selalu ada dalam detak nadiku,
Menyulam makna dalam setiap rasa.
Menuliskan kisah tentang kesetiaan cinta.
Adalah nama yang kugenggam erat,
Di antara ribuan nama yang berlalu.
Nama yang kujaga tetap ada,
Dan kutitipkan dalam doa,
Agar selalu hadir dalam langkah-langkahku.

Tentang Nama Itu

Biarkan aku memohon satu hal:
Untuk menjadi satu,
Satu nama dalam pengembaraan hidup,
Mendayung perahu menuju mahligai cinta.

Cinta yang Tak Bertepi

Rasa ini tetap milikmu,
Cinta ini tercipta hanya untukmu.
Kata-kata ini selalu teruntukmu,
Harapan ini akan selalu bersamamu.
Kita terikat dalam satu kisah,
Dalam satu cinta yang mengabadikan kebersamaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *