Scroll Tanpa Henti? Begini Cara Media Sosial Mengubah Otak Manusia
oleh: Leonardur Par*
TERASNUSA.com-Pernahkah Anda merasa semakin mudah lupa, sulit berkonsentrasi, atau kecanduan scrolling, menggulir, media sosial tanpa henti?
Fenomena ini mungkin berkaitan dengan bagaimana media sosial memengaruhi fungsi kognitif kita.
Banyak tulisan dan penelitian menunjukkan bahwa paparan berlebihan terhadap konten singkat, konten receh (trivial content), dan notifikasi terus-menerus dapat menurunkan kemampuan fokus dan daya ingat (memory retention).
Mari kita eksplorasi lebih dalam mengenai dampak media sosial terhadap otak kita dan bagaimana cara mengatasinya.
๐ญ. ๐๐ฒ๐ฐ๐ฎ๐ป๐ฑ๐๐ฎ๐ป ๐ฆ๐ฐ๐ฟ๐ผ๐น๐น๐ถ๐ป๐ด ๐ ๐ฒ๐ฑ๐ถ๐ฎ ๐ฆ๐ผ๐๐ถ๐ฎ๐น
Setiap kali kita menerima like, komentar, atau notifikasi di media sosial, seperti ๐๐ฎ๐ฐ๐ฒ๐ฏ๐ผ๐ผ๐ธ, ๐ง๐ถ๐ธ๐ง๐ผ๐ธ, ๐๐ป๐๐๐ฎ๐ด๐ฟ๐ฎ๐บ, dan lain sebagainya, otak kita melepaskan ๐ฅ๐ฐ๐ฑ๐ข๐ฎ๐ช๐ฏ, yaitu neurotransmitter yang berperan dalam memberikan perasaan senang dan puas.
Dopamin merupakan salah satu senyawa kimia dalam otak kita yang mempengaruhi suasana hati.
Senyawa ini menyampaikan rangsangan ke seluruh tubuh sehingga kita melakukan sebuah tindakan.
Tindakan yang dirangsang oleh hormon dopamin ini akan membawa kebahagiaan.
Peningkatan kadar dopamin ini menciptakan sensasi menyenangkan yang mendorong kita untuk terus mengulangi perilaku tersebut, mirip dengan mekanisme yang terjadi pada kecanduan zat tertentu.
Akibatnya, kita cenderung kecanduan scrolling tanpa sadar, selalu mencari rangsangan instan dari media sosial.
Kebiasaan ini dapat menyebabkan penurunan rentang perhatian (attention span), membuat kita sulit fokus pada tugas yang memerlukan konsentrasi tinggi, seperti membaca buku, membaca artikel yang panjang, atau membaca postingan ini.
Untuk mengatasi hal ini, disarankan untuk mengatur waktu penggunaan media sosial dan menerapkan teknik โdopamin detoxโ.
Misalnya dengan mengambil waktu sehari tanpa mengakses media sosial atau membaca buku cetak (printed book) tanpa hp disamping, sehingga otak memiliki kesempatan untuk beristirahat dari rangsangan instan dan memulihkan kemampuannya dalam memproses informasi secara mendalam.
๐ฎ. ๐ฅ๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ต๐ฎ๐๐ถ๐ฎ๐ป ๐ฃ๐ฒ๐ป๐ฑ๐ฒ๐ธ
Rentang perhatian pendek (short attention span) merupakan fenomena kesulitan untuk fokus atau mempertahankan perhatian dalam waktu lama.
Penelitian yang dilakukan oleh Microsoft pada tahun 2015 mengungkapkan bahwa rata-rata rentang perhatian manusia telah menurun menjadi 8.5 detik, lebih pendek dibandingkan dengan ikan mas yang memiliki rentang perhatian sekitar 9 detik.
Bayangkan, ikan mas lebih perhatian bila dibandingkan manusia.
Disamping itu, penelitian yang dilakukan oleh tim UGM tahun 2024 tentang pengaruh TikTok terhadap rentang perhatian pelajar Indonesia ditemukan bahwa attention span yang pendek berdampak pada penurunan performa akademik siswa di sekolah.
Lebih lanjut, terhitung sejak tahun 2010-2024, performa akademik pelajar indonesia mengalami penurun skor.